SEdXx5lkiVZf4jiMtlFWfVgHxR2UbYmUAP1TopcR
Thaharah Korupsi: Catatan untuk Memilih Pemimpin

Thaharah Korupsi: Catatan untuk Memilih Pemimpin

Sumber Foto: Pixabay
 Ajaran Islam tentang thaharah tidak hanya terbatas pada bidang ubudiyyah-mahdhah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Thaharah, tidak hanya menyangkut hal-hal yang bersifat fisik, tetapi juga psikis dan ruhani. Sebagai salah satu ibadah di dalam Islam, thaharah memiliki dimensi ubudiyyah dan muamalah. Dengan thaharah, Islam menuntut setiap Muslim agar senantiasa menjaga kebersihan dirinya, keluarga, masyarakat dan bangsa. Kebersihan dalam ibadah, harus terimplementasi dalam tatanan sosial-politik yang bersih.

Jika dipahami secara jelas, korupsi termasuk perbuatan yang kotor. Korupsi adalah perilaku yang sangat merusak. Korupsi tidak hanya mengotori jiwa orang yang melakukannya, tetapi juga menghancurkan tatanan kehidupan sosial politik dan ekonomi.

Korupsi adalah dusta, kebohongan yang terinternalisasi dan terinstitusionalisasi. Inilah yang membuat Indonesia hancur. Sangat ironis, negara dengan jumlah Muslim terbesar juga menjadi bangsa yang paling korup di dunia. Karena itu, agar Indonesia dapat menjadi negara yang bersih, korupsi harus diberantas.


Siapa yang dapat melakukannya? Jika kita mengacu kepada konsep thaharah, maka korupsi hanya dapat diberantas oleh orang yang bersih, tidak korup. Korupsi tidak akan dapat diberantas oleh koruptor. Jika kita menganalogikan dengan air, maka korupsi hanya dapat diberantas oleh pemimpin yang bersih dan memiliki kemampuan untuk membersihkan keluarga, masyarakat dan bangsa. Inilah tipe pemimpin yang masuk kategori: suci dan mensucikan.

Korupsi tidak akan dapat dibersihkan oleh pemimpin yang bersih, tetapi tidak tegas: tidak memiliki keberanian untuk membersihkan keluarga, masyarakat dan bangsa. Dia bersih, tetapi orang-orang sekelilingnya, orang-orang yang telah membantunya adalah koruptor. Dia merasa berhutang budi dan sangat tergantung. Akibatnya, sikapnya banci. Inilah tipe pemimpin yang bersih tetapi tidak dapat membersihkan orang lain. Dalam hubungannya dengan amar ma'ruf nahi mungkar, dialah pemimpin yang sangat lemah (adh'aful iman).


Korupsi juga tidak dapat diberantas oleh orang yang diduga pernah terlibat atau mantan koruptor. inilah tipe pemimpin yang musta'mal; kebersihannya diragukan. Dia menjadikan pemberantasan korupsi sebagai komoditas yang mengantarkannya menjadi penguasa. Tetapi, karena dia sendiri juga tidak bersih, maka orang meragukan komitmennya memberantas korupsi. Yang jelas tidak mungkin adalah tipe pemimpin keempat: koruptor. Ibarat air, dia adalah air yang najis: tidak sah dipergunakan untuk bersuci.

Di dalam memilih calon pemimpin, hanya pemimpin tipe pertama yang layak dipilih. Pemimpin yang akan datang, haruslah seorang Muslim yang bersih yang sama sekali tidak pernah terindikasi melakukan korupsi, memiliki komitmen serta keberanian untuk memberantas korupsi. tidak sepantasnya kita memilih calon pemimpin yang suci tetapi tidak mensucikan, calon pemimpin yang musta'mal, apalagi yang najis: koruptor.

Saatnya kita melakukan thaharah korupsi dengan memilih calon pemimpin yang suci dan mensucikan.


Sumber: Diramu dari buku "Deformalisasi Islam"
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

10 comments

  1. Carilah pemimpin yang sedikit salahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajib itu. Memilih yg paling sedikit keburukannya.

      Delete
  2. setuju dah kalau ini. .di Indonesia koruptor malah mendapat perlindungan. . .hukuman yang tepat untuk koruptor adalah
    1. di miskinkan dan disita seluruh hartanya
    2. sang koruptor dan keluarganya tak boleh daftar PNS atau militer atau anghota legislatif

    sekedar uneg2 dr sya gan heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga sangat sepakat dengan apa yg Agan usulkan. Cuman kadang para pejabat dan anggota legislatif kita yg mungkin belum punya keberanian untuk membuat peraturan tentang hukuman para koruptor Gan. Makasih usul dan sarannya Gan

      Delete
  3. Memilih pemimpin harus sangat slektif ini, apalagi sebentar lagi akan dilaksanakan pemilihan legislatif. jangan sampai salah pilih yang dapat merugikan bangsa, negara kita dan melanggar aturan-aturan agama. sip info yang bermanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Gan. Kita harus bisa menakar siapa yg akan kita pilih. Krn berakibat pada kelangsungan masa depan kita juga. Makasih telah berkunjung Gan.

      Delete
  4. Mantap gan, dapat ilmu baru dari artikel ini. Salam dari "Lorong Pabrik"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah gan. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

      Delete
  5. Carilah pemimpin yang yang memperjuangkan islam,, Pemimpin yang Paham dengan islamnya,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Gan. Sy sendiri sangat prihatin bila ada di antara kita yg berseronoh 'siapapun pemimpinnya kita akan tetap seperti ini'. Padahal kebijakan seorang pemimpin itu menetukan masa depan kita, bangsa dan negara. Bila kita salah pilih maka akan fatal akibatnya.

      Terima kasih

      Delete

Post a Comment