SEdXx5lkiVZf4jiMtlFWfVgHxR2UbYmUAP1TopcR

Ayat-Ayat Logika

Untuk pedoman hidup, kita dikarunia dua jenis ayat. Jenis pertama adalah apa yang terhampar di alam semesta ini. Tanda-tanda alam. Bahasa Arab memberi nama ayat kauni. Kita bisa belajar tentang kehidupan dengan mempelajari apa-apa yang telah dibentangkan di alam semesta oleh Sang Pencipta.

Jenis kedua adalah apa yang tertulis dalam kitab suci. Kita bisa mendapatkan tuntunan hidup dengan membaca dan mengamalkan apa yang dikehendaki Sang Penguasa alam ini dengan membaca kitab suci. Dalam bahasa arab disebut ayat qauly, ayat-ayat yang difirmankan oleh-Nya.

Keduanya, baik ayat kauni maupun ayat qauly berasal dari Sang Pencipta. Karena itu, tentu saja akan menjadi perpaduan yang sangat matching. Klop.

Dalam hal logika, kedua ayat ini juga menjadi sebuah paduan yang klop. Secara kauni, semua kejadian di alam ini selalu konsisten. Alam selalu jujur.

Sebagai contoh, alam sejak dulu menunjukkan kepada kita kenyataan bahwa air mendidih pada suhu 100 celcius. Maka, sampai kapanpun, yang namanya air (H2O) selalu konsisten dengannya. Tidak pernah ada air yang mendidih pada suhu sebelum atau sesudahnya. Air selalu tepat. Inilah hukum alam. Dalam terminologi Islam disebut sunnatullah.


Kalau anda menginginkan air mendidih, maka anda tidak bisa berdo'a “Ya Tuhan, didihkanlah air pada suhu 99oC!”. Itu adalah do'a yang menyalahi sunnatullah.

Lalu, di mana tempat do'a? Anda bisa berdo'a selain itu. Contohnya meminta supaya kompor tidak rusak dan mati sebelum suhu air mencapai 100o Celcius. Meminta supaya tamu anda diberi kesabaran dan tidak pamitan pulang sampai air mendidih agar anda bisa menghidangkan kopi panas untuknya. Meminta supaya kayu yang tersedia bisa cukup digunakan untuk memasak air hingga mendidih. Do'a yang terakhir ini menyangkut efisiensi perebusan.


Konsistensi alam semesta ini kemudian tersimpan sebagai sebuah format logika di otak kita. Ketika sesuatu tidak sesuai dengan pola yang ada di otak maka kita mengatakannya tidak logis.

Banyak sekali ayat Qur'an yang mengajari kita untuk menggunakan otak ini. Misalnya di Surat Ali Imran ayat 190-191 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda (ayat-ayat) bagi yang berakal (ulil albab). Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.


Ayat ini memberi karakteristik terhadap orang yang berakal, ulil albab. Ciri utamanya, dalam segala kondisi, dalam segala kesempatan, ia selalu memikirkan ayat-ayat yang terhampar di alam semesta. Pada saat yang sama ia sadar bahwa Tuhannya telah menciptakannya dengan penuh hikmah, penuh pelajaran, bukan sebuah ciptaan yang sia-sia. Inilah karakter yang klop antara ayat kauni dan qauly. Ayat-ayat di alam semesta dan apa yang tersurat dalam kitab suci.

Di Surat al-An'am ayat 50, kita kembali diingatkan untuk menggunakan otak, “Katakanlah Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Maka, apakah kalian tidak memikirkannya?”

Afalaa yatafakkaruun? Apakah kalian tidak memikirkannya? Ini memberikan penegasan kepada kita tentang perbedaan orang yang berfikir dan orang yang tidak berfikir. Orang yang mendayagunakan otak dengan orang yang mengabaikannya.

Dalam indeks al-Qur'an terbitan Dar Ibn Katsir misalnya terdapat 18 ayat untuk entry kata “fakara”. Sebuah penegasan yang luar biasa. Maka, tidak ada alasan lain bagi kita kecuali: dayagunakan otak. Susun strategi! Pake tuh otakkkk!!!!
Related Posts
SHARE

Related Posts

Langganan Artikel Terbaru

2 comments

Post a Comment