SEdXx5lkiVZf4jiMtlFWfVgHxR2UbYmUAP1TopcR

Hobi ataukah Pemaksaan Kehendak Nafsu Belaka?

hobi-yang-terpaksa
Sebelum tulisan ini saya posting di blog. Hati ini mendua. Pantaskah berkelu-kesah di blog ini atau tidak? Namun entah kenapa tangan dan pikiran seakan-akan tidak bisa dihentikan untuk menulis.

Berawal dari dipercayai untuk memimpin sebuah klub sepakbola amatir tingkat lingkungan. Padahal awalnya saya tidak menyukai sama sekali olahraga yang satu ini. Namun karena kepercayaan dari warga lingkungan tempat saya tinggal, akhirnya saya pun bertekad untuk membina dan membangkitkan kembali euforia yang sempat padam.

Dan olahraga sepakbola pun menjadi hobi baru bagi saya.

Saya adalah orang yang perfeksionis. Sehingga apapun pekerjaan yang saya geluti haruslah terlihat dan berakhir sempurna. Dan saya tidak ingin mengerjakan suatu pekerjaan setengah-setengah.

Mungkin karena sifat inilah salah satu penyebab munculnya masalah.

Sejak tahun 2015 hingga saat ini masih tetap eksis membina klub tersebut. Akhir-akhir ini, tiba-tiba hati dan pikiran bergejolak. Antara harus melepaskan atau harus melanjutkan. Bukan karena tidak adanya prestasi yang kami sumbangkan untuk Lingkungan. Bahkan saat ini, di penghujung tahun 2019 klub tersebut meraih Double Winner. Pertama menjuarai Open Tournament Langam Cup pada bulan November dan menjuarai Open Tournament Kades Cup Desa Pukat pada akhir bulan Desember.
double-winner-petafc-2019
Kebahagiaan dan kesenangan pasti ada saat kedua tropi itu kami angkat karena hasil dari do'a, usaha, kerja keras dan dukungan semua pihak. Di samping kebahagiaan itu ada secercah atau bahkan setumpuk penyesalan dan kegelisahan yang menimpa saya secara pribadi. Sebab pembinaan dan keikutsertaan klub dalam semua turnamen pastinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Yang namanya klub amatir tingkat lingkungan, dipastikan tidak adanya sponsor yang mau mensponsori bahkan melirikpun tidak ada. Sehingga masalah klasik pun muncuk di tengah-tengah kompetisi yang sedang diikuti. Dan saya sebagai orang yang bertanggungjawab atas klub tersebut harus tampil di depan untuk tetap membuat roda selalu berputar guna menghindari pemberhentian di tengah jalan.

Kesyukuran yang luar biasa saya berhasil melalui persoalan tersebut hingga berhasil menyumbangkan dua tropi sekaligus di akhir tahun 2019.

Keberhasilan ini, bukannya membuat saya secara pribadi terbebas dari masalah. Bahkan muncul masalah baru yang harussecara sendiri saya selesaikan.

Di tengah-tengah kegembiraan para supporter akan kemenangan yang kami raih, sering, hati dan pikiran saya bergejolak kencang memikirkan pembiayaan yang harus kami tanggung. Mengingat keikutsertaan klub kami dalam setiap kompetisi hanya bermodalkan nekat. Hingga ada salah satu pemain mengatakan kepada saya 'kalau kita menjuarai Open Tournament Kades Cup Desa Pukat, kita ganti saja nama klub menjadi NEKAT FC'. Walaupun dia sampaikan dengan nada bercanda, namun ngena di hati saya. Tidak bisa juga saya harus menyalahkan mereka yang berkata begitu, karena memang saya akui bahwa membangun dan membina klub ini hanya bermodalkan NEKAT.
hobi-ataukah-pemaksaan-kehendak-nafsu-belaka
Saya sendiri tidak mau menutupi bahwa saya orang yang secara ekonomi juga masih sangat kekurangan. Sehingga untuk tetap membuat klub tersebut berjaya pastinya membutuhkan biaya yang sangat besar.

Biaya tersebut juga hasil dari gali lubang tutup lubang. Yang pada akhirnya lubang paling besar harus saya tutupi sendiri.

Tepatnya pada tanggal 25 Desember 2019 sehari setelah tropi kedua kami raih, banyak di antara teman karib saya menyarankan untuk segera melepas klub tersebut. Saya pun berpikiran demikian. Tapi saya sendiri bimbang antara harus melepaskan ataukah melanjutkan. Dilepaskan sayang, dilanjtukan juga saya sudah sangat tidak mampu untuk sekadar berdiri.

Sempat terpikirkan kalau harus saya harus melepaskan, apakah klub ini bisa berprestasi kembali setelah saya tidak lagi berperan di klub tersebut? Namun kalaupun saya terus bertahan untuk tetap berperan, apakah saya sanggup, melihat kemampuan saya sudah tidak ada lagi? Di satu sisi saya harus tetap menghidupi istri dan anak-anak.

Di tengah keikutsertaan pada Open Tournament Kades Cup Desa Pukat 2019, saya sempat mengumpulkan beberapa warga setempat melalui Kepala Lingkungan yang sedikit berpengaruh guna berdiskusi untuk mencari solusi terhadap masalah yang sedang dihadapi oleh klub. Namun, hasilnya sangat jauh dari apa yang saya harapkan.

Saya sendiripun hingga saat ini masih bimbang untuk mengambil keputusan. Di satu sisi saya sudah terlanjur sayang dengan klub yang saya bina ini. Dan di sisi lain saya sudah tidak ada kemampuan untuk menjalankannya.
Related Posts
SHARE

Related Posts

Langganan Artikel Terbaru

Post a Comment