SEdXx5lkiVZf4jiMtlFWfVgHxR2UbYmUAP1TopcR

Bersyukur, Bagaimana Pun Keadaanmu

bersyukur

Anakku, sebelum segala sesuatunya, ayah mengajakmu bersyukur. Ya, apa dan bagaimana pun keadaanmu saat ini, yang terbaik adalah engkau tetap bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya. Sungguh kenikmatan yang engkau rasakan dari waktu ke waktu, itu jumlahnya jauh lebih banyak dan melimpah ketimbang masalah yang mungkin engkau anggap sebuah musibah.

Coba engkau belajar bersyukur dari Nabi Sulaiman Alaihissalam. Ia mendapat banyak nikmat dari Allah. Namun, di waktu bersamaan, sangat khawatir jika disebut hamba yang tak pandai bersyukur. Karena itu, Nabi Sulaiman membaca do'a ini:

رَبِّى أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَىَّ

"Ya Rabb, jadikan aku hamba pandai mensyukuri segenap nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku." (an-Nahl:19)

Anakku, saat engkau susah dan sedih pun, masih ada cela untuk engkau bersyukur. Saat engkau sakit, nikmat Allah masih tidak bisa engkau hitung. Apalagi saat bergembira, seharusnya, engkau lebih banyak bersyukur. Nabi ajarkan do'a:

الْحَمْدُ للهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

"Segenap puji hanya milik Allah bagaimana pun keadaannya." (at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, Maktabah Syamilah)

Ayah mulai kisah pertama tentang syukur. Suatu waktu, seorang pengemis melewati Nabi. Beliau pun memberikan sebutir kurma. Namun, pengemis itu menolak karena merasa hanya sebutir kurma. Tidak lama, pengemis lain melewati Nabi. Beliau juga memberikan sebutir kurma kepadanya. Namun, pengemis kedua itu memuji Allah,

سُبْحَانَ اللهِ تَمْرَةٌ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Subhanallah, kurma ini diberi Nabi."

Mendengar pujian itu, Nabi pun tambahkan untuknya 40 dirham. (Tafsir Imam Ibnu Katsir, Ibrahim: 7, Maktabah Syamilah)

Anakku, jangan seperti orang buta yang tidak pandai bersyukur saat mendapat hadiah cermin. Jika tanganmu enggan memberi, jangan sampai lidahmu ikut enggan mengucap syukur.

semoga engkau dan ayah pandai mensyukuri sekecil apa pun nikmat Allah. Karena, di balik syukur ada tambahan nikmat dan karunia yang jauh lebih banyak. Sebaliknya, setetes nikmat yang engkau kufuri kelak menjadi gelombang adzab pedih.

Disadur dari buku "Sebelum Ayah Tiada" karya Muhammad Yasir, Lc.

Related Posts
SHARE

Related Posts

Langganan Artikel Terbaru

Post a Comment

x

Berlangganan

Dapatkan pemberitahuan melalui email setiap ada artikel baru.